Friday, September 28, 2018

PERCAYALAH DAN BERGEMBIRALAH





Psa 37:3-7
(3)  Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik,
             diamlah di negeri dan berlakulah setia,
(4)  dan bergembiralah karena TUHAN;
             maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.
(5)  Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;
            (6)  Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.
(7)  Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.




PERCAYALAH
Sebagai orang percaya, kita sering kali berjuang untuk percaya kepada Tuhan.  Tuhan yang kita sembah—Dia Allah yang tidak kelihatan.  Bahkan pekerjaan tangan-Nya sering tidak kita alami terutama ketika kita sedang bergumul dan membutuhkan Tuhan.  Saat-saat seperti itu mungkin kita akan mengalami penantian yang panjang.  Pertolongan Tuhan tampak hanya samar-samar di balik awan.  Kapan Tuhan akan bertindak membela ku?

Semua orang percaya pasti pernah mengalami saat-saat seperti itu.  Saat di mana kita sungguh-sungguh mengharapkan pertolongan dari Tuhan.  Saat-saat seperti itu sebenarnya adalah saat yang hening—saat di mana kita bersama Tuhan.  Hanya ada kita dan Tuhan.  Kita sedang berdiri di hadapan Tuhan dan mengharapkan pertolongan dari tangan-Nya.  Saat seperti ini seharusnya tidak terdistraksi oleh keadaan kita;  saat ketika kita melihat Tuhan memandang pergumulan kita dan kita sedang menantikan Dia.

Saat seperti itu kita mendengar suara: “PERCAYALAH kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik..”
Tetaplah percaya kepada Tuhan dalam persoalan yang kita hadapi.  Kepercayaan itu dilempar jauh tertanam ke hadirat Allah, bukan kepada persoalan hidup yang sedang dihadapi seperti jangkar yang dilemparkan masuk menembus ke dalam tirai Bait Suci di mana Allah ada.  Ini adalah kepercayaan yang mempercayai bahwa Allah ada di sana dan Ia melihat dengan jelas, lengkap dan melewati masa/waktu.

Meskipun kita tidak tahu mengapa seolah-olah Allah berdiam diri, namun kita tahu IA MAHA TAHU.  Bahkan ia tahu jika persoalan itu akan melukai kita.  HE IS GOD…we just human being.  HE IS OUR CREATOR, LET HE WILL BE DONE!

Satu tugas kita adalah tetap percaya kepada Dia dan melakukan kebaikan!   Percaya kepada Tuhan yang menguasai, memampukan kita untuk tetap berbuat baik.  Dari pada bergumul terus melihat persoalan dan kepedihan hati kita, kita seyogianya PERCAYA kepada Allah dan terus berbuat baik.  Lemparkan jangkar imanmu melewati persoalan hidupmu, dan biarkan jangkar itu sampai ke hadirat Allah.  Biarlah orang lain menemukan kebaikan dan kesetiaan kita kepada Allah.


BERGEMBIRALAH
Bergembira atau bersuka-cita di dalam Tuhan bukan ajaran dari agama.  Agama mengajarkan kalau ketemu Tuhan harus  serius, dengan takut dan gentar sebab sewaktu-waktu Dia bisa murka jika tidak berkenan kepada kita.  Itulah sebabnya agama mengajarkan ketemu Tuhan harus membawa sesajen/persembahan sebagai representasi ketundukan dan rasa gentar kita.

Namun, Tuhan kita tidak seperti itu.  Kita memang harus datang dengan penuh penghormatan dan takut dan gentar di hadapan Allah Pencipta kita, namun Alkitab mengajarkan bahwa Allah kita menginginkan kita bisa bersukacita di hadapanNya karena Dia.  Mazmur mengajak umat Tuhan bersuka dengan semua alat musik di hadapan Tuhan.  Daud sendiri memakai berbagai alat musik dan menari di hadapan Tabut Allah.

Tuhan menginginkan sukacita kita.  Ia seperti seorang ayah yang rindu melihat senyum di wajah anak-anaknya, bukan wajah ketakutan.  Dan Allah menikmati sukacita kita, senyuman kita, hati yang bersyukur yang kita bawa kepadaNya.  Dia bukan Allah yang serius, dan dengan wajah kaku seperti seorang hakim di pengadilan.  BERGEMBIRALAH KARENA TUHAN bukan karena hal yang lain.

Dasar sukacita yang berkenan di hadapan Tuhan adalah kerena Tuhan.  Bergembiralah karena Tuhan, bukan karena orang , barang, kekayaan, berkat, pergumulan yang dijawab, tetapi karena pribadi TUHAN sendiri.  Orang yang bisa bergembira karena Tuhan, jelas adalah orang yang mengenal Tuhan.  Jika seseorang bersuka-cita karena berkat, maka dasar bersukacitanya belum tentu didasarkan kepada pribadi Allah.  Sukacitanya karena pemberian-pemberian dan pertolongan Allah saja.  Jangkarnya belum sampai di ruang maha Kudus di mana pribadi Allah ada.

Sukacita hanya karena Tuhan adalah sukacita yang hanya karena pribadi Allah saja.  Sukacita yang demikian membuat Allah memberikan apa yang menjadi keinginan kita.  Lihat! Betapa Allah menginginkan kita bersukacita di hadapanNya dan karena Dia?

Lepaskan semua beban persoalan kita!  Datanglah kepada Tuhan....  Percayalah kepada Tuhan dan bergembiralah karena Tuhan, maka Tuhan akan memberikan apa yang diinginkan oleh hati kita.  ALLAH KITA LUAR BIASA..!!

Friday, April 13, 2018

Bible Storytelling: Preparing to Tell the Story

TGP_StoryTelling_PREPARING

Let’s talk about it up front and get it over with.
If we want to tell Bible stories well—if we want to communicate the beauty and power of the gospel in engaging ways—it takes work. So, yes, your prep time will increase as you learn the art of storytelling. But remember that your kids are worth the extra effort! And the time it takes you to prep will shorten as you learn more about storytelling and practice it, so don’t stress too much if learning the art of storytelling adds more time than you’d like first.
With that said, the fact that you are reading this blog tells me you aren’t afraid of doing extra in your role of pointing kids to Jesus. So let’s plow ahead.
Telling compelling stories begins long before you sit or stand in front of your kids. It begins when you first rub shoulders with the Bible story and prepare to tell it.
Here are 6 steps to guide solid, meaningful preparation.
1. Read the Story
Begin by reading the story several times. Here’s what Maxine Bersch suggests in her book, Storytelling in a Nutshell:
Read the story aloud several times. This does not necessarily mean you do these readings in succession, but just simply take time to sit down and read the story aloud, then read it as many times as necessary for you to be able to write the sequences of events in 1-2-3 order. — Maxine Bersch, Storytelling in a Nutshell: A Primer for Storytellers in Christian Education (Genevox Music, 1998), 81.
You may want to consider reading the Bible story in different translations to give it a different feel. You might also want to listen to an audio version of the story using a Bible app. Once you are able to outline the story from the top of your head, you are ready to move on to the next step.
2. Know the Story
Now that you are familiar with what we often call the focal passage, it is time to broaden your reading to the context of the story. We aren’t able to cover nearly as much of the stories as we would like to cover in the focal passages because of time limitations, but don’t let that stop you from filling in the gaps that sometimes exist between stories or even within a story. So read the chapters around the story to get a better feel for the big picture of what is going on.
As you do this, you will need to roll up your sleeves and really study at times. Carefully consider what you read. Look up any terms you aren’t familiar with. Use cross references to find connections. Read the footnotes in your Bible or get a good commentary to help you understand what you read more deeply. Make sure there aren’t any glaring unanswered questions in your mind.
3. Know the Point of the Story
By this point, you have a solid grasp of the details—the “what”—of the story. Now it is time to go the next step and know the “why” of the story.
Spend some time praying and asking God to help you understand the point of what you are reading. What are you learning about God? About Jesus? About the gospel? This is where it is helpful to spend some time camping out in the Christ connection. The Christ connection provides much of the “why” of the story. You can think of it as the destination of your story. Maxine Bersch again provides some helpful suggestions for us at this stage:
Fill your mind with Bible reading and prayer. Be in love with it all; get saturated with it. Remember how you felt when you first heard the story. Try to recapture a sense of wonder about it. — Maxine Bersch, Storytelling in a Nutshell, 136.
4. Finalize the Story
At this point, you are ready to zero in on the Bible story script provided in the leader guide. First, read over it once more and adjust it based on your time of study. You know your kids and your ministry context better than we do, so you are the best one to know if you need to add more details to the story, remove some, use a word or phrase from your preferred Bible translation, or make changes to fit your time and storytelling style better.
Two words of caution are needed at this point. First, consider this warning from Maxine Bersch:
It is never acceptable to start Bible stories with word, “Once upon a time…” for at this age they do associate these beginning words with the imaginary story. — Maxine Bersch, Storytelling in a Nutshell, 32.
Second, be careful to stay as close to the Bible text as possible. It might be tempting to add details for added color and storytelling interest, but the more we add, the more obscure we make God’s Word.
5. Read, Record, and Listen to the Story
Once your script is complete, record yourself reading the story out loud. Then listen to it. Now, don’t worry as much about your storytelling technique at this point. What you want to listen for is flow. Does the story make sense? Did you leave anything out? Is there anything that is not needed? Is it too long?  Make any necessary edits and repeat this process until you have your final script.
6. Memorize the Story
OK. Now things are getting serious. I know that this idea strikes fear into the hearts of many of you who just read this—me included. But if you want to be the best storyteller you can be, you really need to memorize the story.
In his book, The Fabulous Reinvention of Sunday School (Zondervan, 2007), Aaron Reynolds strongly advocates memorizing Bible stories. Reynolds shares that memorizing stories:
  • Creates intentionality of what you are teaching.
  • Allows you to be in tune with the Holy Spirit; as you prepare and teach, you are not worried about what comes next.
  • Makes excellence possible; it frees you to focus on creative moments instead of the script.
  • Empowers your teaching; you are able to proclaim truths from the heart rather than words from the page.
He also provides these four practical memorization tips:
  • Compartmentalize the material. Break the story down into bite-sized chunks that you can get your arms around. Memorize one at a time.
  • Write on the script. This is especially helpful for visual learners. Use color codes such as highlighting all of the dialogue one color.
  • Rewrite it. Writing out the script several times aids in memory.
  • Record it and listen to it. Play it in the car on your commute or as you exercise.
Once you have that Bible story memorized, you are ready to go to the next step and begin thinking about how you will tell it in an engaging fashion. But before we wrap up this post, let me share one more tip.
If you’ve tracked with this, you’re probably scratching your head thinking how you can accomplish all of this in a week. That’s a great question to ask. The answer is you probably can’t. You really need to overlap your work and work ahead. So at any given time, you may be reading and studying one story, writing the script for a second story, memorizing a third, and perhaps even preparing to tell a fourth. But hear this: you can do it! The same God who created the universe with the spoken word indwells you and empowers you with His strength. Lean in on Him. He will not leave you stranded. Never forget 1 Corinthians 15:58 —
Therefore, my dear brothers, be steadfast, immovable, always excelling in the Lord’s work, knowing that your labor in the Lord is not in vain.
With that said, I also want to encourage those of you who still may feel overwhelmed. Just take a step or two! It doesn’t have to be all or nothing. Do what you can do. That step or two can make a huge difference. You never know. So do what you can and trust God to work through you for His glory.

Source:
https://www.gospelproject.com/bible-storytelling-preparing-to-tell-the-story/?emid=clandes-tgp-newsltr-183921

Monday, February 26, 2018

Not To Measure


Powerless


Intimacy With God


The Barnabas Factor: Five Practices To Help You Find More Leaders

For some strange reason, my favorite Bible character has long been Barnabas. The poor guy doesn’t get much attention in Sunday school classes or sermons. At first glance, he’s remarkably second fiddle—a mere role-player in a cast of superstars. And even then, he’s not long for the storyline, exiting halfway through the book of Acts after a testy exchange with the Apostle Paul over staffing priorities for an upcoming mission’s trip.
But when it comes to finding and empowering people for ministry, Barnabas had no equal.
I can make an argument (at least from the human perspective) that without his contribution and nose for finding, training, and developing leaders, there would be no Apostle Paul, no book of Romans or any of Paul’s other New Testament letters, no Gentile Christians, and no gospel of Mark. That’s quite a legacy for someone who gets so little love from theological pundits and preachers.
After years of mulling on the life of Barnabas, as well as extensive writing and speaking on the subject of leadership, I’ve come to the conclusion that those who are most successful at building teams (be they lay-leadership teams or a top-quality paid staff) inevitably share with Barnabas the five traits that make up what I call The Barnabas Factor. At the same time, those who habitually bemoan a lack of volunteers, low morale, and a chronically high turnover rate tend to lack these same five traits.
So what are these powerful traits that made Barnabas so different? And what can we do to build them into our own life and ministry? Here’s a brief look at each one.

1) A SPIRIT AND PATTERN OF FINANCIAL GENEROSITY

The first thing we learn when Barnabas bursts onto the scene in Acts 4 is that he had recently sold a field and given the money away to help others. It seems that this wasn’t an isolated act. You see, Barnabas wasn’t his real name. It was a nickname. It meant Son of Encouragement. His given name was Joseph. But apparently, when you start selling your stuff to help out others, word gets around.
It’s no accident that Barnabas is introduced by a story highlighting his generosity. It’s an important window into his character and heart. It’s also a key trait found among those who excel at finding and empowering others.
Why is a spirit and pattern of generosity so important? It’s because stingy people tend to be threatened people. They protect and hoard. And it’s not just their possessions that they won’t let go of; they also hold tightly onto their prestige, power, and preferences. It’s as if they see prestige, power, and success as a zero-sum game. If someone else gains, they lose. So they won’t let anyone else win.
Stinginess of heart, if it’s allowed to remain, always sabotages healthy building. On one hand, it will cause us to reject anyone who we fear might potentially crowd into our space or fly higher than we’ve flown. On the other hand, it will cause others (especially those with strong leadership potential) to bail out at the first opportunity. No one wants to work with or for a selfish pig.
One of the most powerful tools (if not the most powerful tool) for breaking the stranglehold of a selfish and stingy heart is the discipline of generosity. It puts our treasures and priorities in the right place, and it helps keep them there.
Frankly, if I’m unwilling to share my temporal riches with those in need, there’s not much chance I’ll share my true riches—and according to Jesus, there’s not much chance he’ll trust me with them anyway.
That’s why I always tell pastors and leaders that the first step to building a great team of volunteers or staff is not found in developing better people skills (as important as this is); it’s found in developing a heart of generosity. Once that’s in place, everything else flows much easier.

2) QUICKNESS TO FORGIVE

The second thing that strikes me about Barnabas is his readiness to forgive. The next time he shows up in the book of Acts, he’s sponsoring and supporting the ministry of a former arch enemy.
It’s no stretch to assume that Paul had previously jailed and persecuted some of Barnabas’ close friends. He clearly collaborated in the death of Stephen. That’s a lot to get over. Yet, Barnabas was willing to look past what Paul had done to see what God was doing. It allowed him to see potential where everyone else only saw past sins. What God forgave, Barnabas forgave—quickly. (By the way, I know that Paul was called Saul in the early parts of Acts, but I’m using his more commonly known name throughout for the sake of clarity.)
Ironically, this same spirit of forgiveness that benefited Paul so greatly is what eventually led to a nasty split between Barnabas and Paul. Barnabas wanted to give John Mark a second chance after he had deserted them on an earlier mission’s trip. Paul said, “No way,” and went on his way. Barnabas took John Mark and set sail for Cypress, never to be heard from again in the pages of Acts.
Yet, on this one, time seems to have vindicated Barnabas, not Paul. Shortly before his death, Paul sought a special visit from John Mark, because by then, he’d found him to be “useful” to him. And far more importantly, God chose to use John Mark to write the second gospel. Now, I don’t know about you, but I consider writing the Bible to be a pretty prestigious assignment. Looks like Barnabas made the right choice to give him a second chance so quickly.
Being quick to forgive doesn’t mean ignoring sin. It doesn’t mean someone gets a platform in the immediate backwash of sin and repentance. But it does mean seeing people through the lens of what God is doing in their life now, rather than through the lens of whatever it is they might have done in the past.

3) A FOCUS ON ANOINTING—NOT PEDIGREE

Along with a willingness to forgive whatever God had forgiven, Barnabas also showed remarkable insight into what actually qualifies someone for effective ministry.
I’m sure a pulpit committee or ministry assessment team would have quickly pointed out that Paul lacked the prerequisites and pedigree necessary for ministry. Not only did he lack the early church credentials of having walked with Jesus. He also possessed a sordid past, a public record of bad theology, and blood on his hands.
Yet, somehow, Barnabas was able to see past all that to dial in on the amazing things God had done and was doing in Paul’s life—and the spiritual fruit that backed it up.
Over the years, I’ve found that many of the most effective volunteers, lay leaders, and staff members at North Coast are people who likewise don’t fit the ministry mold. Whether it’s a past sin or failure, a lack of formal education in their specific area of ministry, or simply never having taken the time to jump through all the normally prescribed hoops, these are folks who have been literally cast aside or passed over by other ministries that considered pedigree or education more important than anointing. So we picked up the pieces, and they have blessed us beyond measure.
Nothing puts a lid on volunteers and leadership development like an insistence that everyone must first past through some a man-made, artificial gauntlet of training or experiences before being allowed to unleash the gifts God has given to them.

4) DEFENDING THE RIGHT TO BE DIFFERENT

A fourth trait that set Barnabas apart was his willingness to defend those who did things differently—really differently.
Twice he stepped forward to aggressively defend ministry to Gentiles. Frankly, I can’t imagine that Barnabas was all that comfortable with it. It must have struck him as quite strange that a large group of people wanted to follow the Jewish Messiah, yet were unwilling to become full-on Jews. It must have been disconcerting to show up at an Antioch potluck filled with uncircumcised Christians wolfing down BLTs.
We all know that Jesus said new wine needs new wineskins. But I’m not sure how many of us really believe it—or realize how quickly our new wineskins become old wineskins.
Looking back over the years, it’s sad to realize how often I’ve seen a fledgling young leader marginalized simply because something about the way he or she looked, dressed, or approached ministry was uncomfortable to the pastors and leaders in charge. More to the point, it’s amazing how often God has used that rejection as the impetus to launch a new ministry (sometimes literally down the street) that quickly sucked all the youth, vitality, and future out of the very church that once so dismissively wrote off their new way of doing ministry as inappropriate or “unspiritual.”
We’ll never find and develop leaders for the future if we insist on judging what God likes by what we like. Barnabas knew better. He judged what God approved by what God blessed, not by his own personal comfort zone.

5) WILLINGNESS TO STEP ASIDE AND TAKE SECOND-BILLING

Perhaps the most amazing thing about Barnabas was his willingness to step aside and take second-billing. From the beginning it was always Barnabas and Paul—mentor and mentee. Then suddenly, in Acts 13 and 14, everything changes. Paul pulls off a powerful miracle, then delivers an anointed and convicting message. From that point on, it’s always Paul and Barnabas.
Not many people can go from top-billing to second-billing. But, apparently, Barnabas had no problem with it. He must have realized that Jesus wasn’t kidding when he said the path to greatness is found in serving others. He must have known that the mission is far more important than our status. But more than just knowing those truths (after all, most pastors and Christian leaders I’ve known would agree in principle), he was willing to live them out.
Barnabas was obviously more worried about exalting Jesus than himself. He didn’t fight to protect his turf or power, as if it was really his to begin with. His passion was expanding God’s kingdom whatever the cost, which explains why God was able to use him to find, train, and empower some of the greatest leaders in church history—the kind of leaders the fledgling New Testament church so desperately needed, and the same kind of leaders we still so desperately need today.
The Barnabas Factor is a powerful reminder that true ministry greatness isn’t found in how large our flock is. It’s not found in how many people report to us, help us, or volunteer for us. It’s found in how many people we serve, how many stand on our shoulders taller that we stand, seeing more than we see and doing more than we did.


(Diambil dari: https://www.sermoncentral.com/pastors-preaching-articles/larry-osborne-the-barnabas-factor-five-practices-to-help-you-find-more-leaders-731?ref=?utm_source=newsletter&utm_medium=email&utm_content=button&utm_campaign=scbpu20180216&maropost_id=713054102&mpweb=256-5970101-713054102)

Tuesday, December 19, 2017

AKU KOTOR DAN HINA, DIA AGUNG DAN MULIA


Aku tidak mengerti mengapa Allah mau datang ke dunia kita yang gelap ini.... 

Dunia kita ini begitu gelap!! Lihat saja persoalan Jerusalem, krisis nuklir Korut, bom Pakistan sampai begal di jalanan....semuanya menceritakan tentang keserakahan, nafsu dan ego manusia. Bukankah dunia yang kita diami ini begitu kotor dan gelap ??

Di sini lain, sebagai orang percaya--meskipun kita mengerjakan semua pelayanan dengan tulus hati, namun kita sendiri pun terkadang melayani untuk hal hal yang menyenangkan (misalnya saja untuk dikenal orang, atau sekedar eksis di mata orang).  Terkadang hanya mengalami sedikit ketidak-nyamanan, kita pun memilih untuk mengurungkan niat melayani.  Kurang nyaman saja bahkan bisa menyulut kemarahan kita.  Bukankah itu egois?  Bukankah itu nafsu?
Bagaimana pula dengan seseorang yang menolak melayani Tuhan karena alasan "itu bukan urusanku" atau "bukan tanggung jawabku?"

Saya bertanya dalam hati... apa jadinya jika Allah pun mengejar kepuasan hati-Nya saja?  Pasti DIA tidak akan bersedia mengorbankan Anak-Nya satu-satunya untuk hidup di tengah-tengah kita, manusia yang berdosa-- Allah pasti tidak akan mengizinkan Anak-Nya datang dan diam di dunia kita yang gelap dan kotor...bahkan mati menyerahkan nyawa-Nya demi kita.  Itu semua melampaui batas ketidaknyamanan.

Ya! Dunia ini kotor dan gelap karena ulah kita.  Hati kita kotor maka dunia menjadi kotor. 
Tetapi untuk kitalah, Allah mengutus Yesus Kristus lahir di kandang hewan yang kotor dan hina.....
Sesungguhnya yg hina dan kotor adalah hati kita. IA datang untuk merangkul kekotoran kita.

Maukah engkau membiarkan Kristus lahir dalam hati mu yang egois, penuh nafsu, serahkah, kotor, dan bejat?! Bintang Timur itu pasti akan bercahaya di atas kandang yg hina...

Natal terjadi ketika kita menyadari dan mengakui kebobrokan kita serta menyiapkan palungan hati kita untuk yang Mulia lahir.... 

Selamat Menyambut Kristus Lahir di Kedalaman Hati Kita.
Selamat Natal...



Monday, December 04, 2017

Arti Menjadi Hamba Tuhan


"Apakah artinya menjadi seorang hamba Tuhan?"





Jika hamba mau dianggap sebagai sebuah profesi, maka menjadi seorang hamba adalah profesi yang paling rendah, dan paling hina... 

Seorang pelayan juga adalah profesi yang rendah.  Seorang pelayan tugasnya hanya melayani keinginan orang lain.  Dan celakanya jika dia adalah seorang pelayan restoran, maka "tuan" yang dia layani itu sangat banyak, yaitu semua pelanggannya plus boss restoran.  Apa saja yang menjadi kesukaan, kesenangan, keinginan dan selera tuan-tuannya ini harus dikerjakan dengan baik dan tepat sesuai kriteria para tuannya.  

Meskipun sama-sama di posisi yang rendah, namun seorang hamba memiliki konotasi yang lebih rendah dibandingkan dengan seorang pelayan.  Kata "hamba" memiliki arti seorang budak (bukan "kanak-kanak" seperti dalam bahasa Malaysia).  Budak bahkan tidak memiliki hak hidupnya sendiri.  Namun ketika kata "hamba" ini direkatkan dengan "Tuhan" maka "hamba Tuhan" menjadi paradoksial.  Dia rendah namun tinggi.  Dia hina namun mulia.  Apakah artinya menjadi seorang hamba Tuhan?

Apa yang hina?  Apa yang mulia?
Ketika ada kata "Tuhan" maka seorang hamba Tuhan menjadi profesi rohani (spiritual).  Ada yang mengatakan bahwa seorang hamba Tuhan artinya yang menjadi tuannya adalah Tuhan.  Itulah yang membuat seorang hamba Tuhan berbeda dari hamba/pelayan lain.  Ia tampak "lebih mulia" karena ada kata "Tuhan."

Tetapi pertanyaannya apakah seorang hamba Tuhan mengerjakan kesukaan, kesenangan, keinginan dan selera Tuhannya?

Di sini justru terletak "kemuliaan seorang hamba Tuhan," yaitu ketika ia mengerjakan kesukaan, kesenangan, keinginan dan selera Tuhan, bukan orang lain.  Yang membuat seorang hamba Tuhan mulia adalah sejauh mana ia melakukan kehendak Tuhannya.  Hamba Tuhan mulia semata-mata  karena ada kata "Tuhan" direkatkan kepada dia "hamba."  Sebab percuma saja ada kata "Tuhan" di sana jika seorang hamba Tuhan melayani bukan Tuhannya.  BUKAN "Tuhan" yang membuat seorang hamba Tuhan menjadi mulia, tetapi sejauh mana ia menaruh sepenuh hatinya untuk menyukakan hati Tuhannya, membuat hati Tuhannya senang, melakukan apa yang menjadi kerinduan hati Tuhannya.  Dengan kata lain, di luar itu semua maka seorang hamba Tuhan tidak mulia di mata Tuhan.  Mungkin lebih tepatnya disebut sebagai seorang hamba saja. 

Di sisi lain yang agak gelap, hamba Tuhan sering terjebak untuk mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri secara terselubung, secara kamulfase, dan secara rohanisasi.  Melalui pengajarannya, melalui khotbahnya, melalui relasinya, melalui kebijakannya, melalui pelayanan yang diberikan--itu semua seperti keju di dalam perangkap tikus.  Mungkin karena jauh di kedalaman hatinya, ia belum bisa menerima "kehinaan."   Orang yang tidak bersedia menjadi "hina" dalam melayani akan di-drive oleh motif mencari "kemuliaan" pribadi.  Hamba Tuhan ini seperti seekor tikus akan segera berlari untuk mendapatkan keju tersebut.  Dia bukan mencari kemuliaan Tuhan tetapi kemuliaan bagi pribadi sendiri.

Itulah sebabnya menjadi seorang hamba Tuhan harus merupakan sebuah panggilan ilahi.
Bagaimana profil Anda sebagai seorang hamba Tuhan?



Hamba Tuhan yang dimuliakan Tuhan lebih penting daripada hamba Tuhan yang disanjung dan dimuliakan manusia.



Monday, June 11, 2007

The Last Day on Betlehem


Tanggal 10 Juni 2007 adalah hari terakhir bagi saya dan isteri melakukan kebaktian dan pelayanan di GMI Betlehem. Gereja ini sudah menjadi tempat ibadah dan pelayanan kami selama kurang lebih 5-6 tahun. Namun masih terasa pelayanan kami kurang optimal.

Pertama kali masuk ke gereja ini karena disodorin pelayanan di Sekolah Minggu. Saat itu SM kekurangan guru. :-)
Di atas adalah foto bersama dengan para GSM yang terbaru pada hari tersebut setelah kami melakukan sedikit acara perpisahan dengan anak-anak.

Ini adalah foto dari anak-anak yang menyalami kami. Satu per satu kelas diarahkan oleh gurunya untuk maju ke depan. He..he..he, kayak pejabat aja (jadi malu).


Shalom teman....
Shalom teman....
Sha..loom..mm....
Sha..loom..mm....

Tuhan sertamu
Sampai bertemu
Shalom...
shalom..mm




(Hiks... hiks, sedih juga! Apalagi ada murid yang minta mamanya tanya jam brp kami berangkat. Mamanya bilang anaknya mau ikut mengantar)




Shine Jesus on Betlehem

Hari terakhir ini juga kami isi dengan mempersembahkan lagu di Kebaktian Umum. Anggota VG Kelompok Kecil pada awalnya memang mendesak agar di hari terakhir kami ini mempersembahkan pujian yang sudah kami latih sejak lama. Ya inilah wajah-wajah mereka semua:


Seperti syair lagu ini, demikianlah kebutuhan Betlehem. GMI Betlehem membutuhkan terang kasih Tuhan yang menyinari setiap hati. Menerangi setiap hati majelis, KPP, Pengurus dan semua jemaat. Kebiasaan-kebiasaan yang kurang berkenan di hati Tuhan masih kerap terjadi dalam gereja. Praktek-praktek yang kurang terpuji masih dijalankan oleh segelintir majelis.


Mampukah terang kasih Tuhan menembus kegelapan malam di Betlehem...?? Sanggupkan Betlehem memancarkan/merefleksikan kembali terang kasih Tuhan bagi orang yang membutuhkan DIA? Lagu ini menjadi pengharapan saya atas Betlehem. Semoga suatu saat nanti Betlehem menjadi lilin bagi banyak orang dan pemancar kasih Tuhan.

See u Betlehem..., may Jesus shine upon you.
Love our GOD with all your heart
And LET THERE BE LIGHT...!!

Thursday, June 07, 2007

WORDS OF WISDOM

WORDS OF WISDOM!!
---------------------------------------------------------------

1. Anger is a condition in which the tongue works faster than the mind.
2. You can't change the past, but you can ruin the present by worrying over the future.
3. God always gives His best to those who leave the choice with Him.
4. All people smile in the same language.
5. A hug is a great gift. One size fits all. It can be given for any occasion and it's easy to exchange.
6. Everyone needs to be loved...especially when they do not deserve it.
7. The real measure of a man's wealth is what he has invested in eternity.
8. Laughter is God's sunshine.
9. Everyone has beauty but not everyone sees it.
10. It's important for parents to live the same things they teach.
11. Thank God for what you have, TRUST GOD for what you need.
12. If you fill your heart with regrets of yesterday and the worries of tomorrow, you have no today to be thankful for.
13. Happy memories never wear out...re-live them as often as you want.
14. Home is the place where we grumble the most, but are often treated the best.
16. The choice you make today will usually affect tomorrow.
17. Take time to laugh, for it is the music of the soul.
18. If anyone speaks badly of you, live so none will believe it.
19. Patience is the ability to idle your motor when you feel like stripping your gears.
20. Love is strengthened by working through conflicts together.
21. The best thing parents can do for their children is to love each other.
22. Harsh words break no bones but they do break hearts.
23. To get out of a difficulty, one usually must go through it.
24. We take for granted the things that we should be giving thanks for.
25. Love is the only thing that can be divided without being diminished..
26. Happiness is enhanced by others but does not depend upon others.
27. You are richer today if you have laughed, given or forgiven.
28. For every minute you are angry with someone, you lose 60 seconds of happiness that you can never get back.
29. Do what you can, for who you can, with what you have, and where you are.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
 T
HE BEST GIFTS TO GIVE:

To your friend - loyalty =kesetiaan
To your enemy - forgiveness =pengampunan
To your boss - service =pengabdian
To a child - a good example =teladan yang baik
To your parents - gratitude and devotion =terima kasih dan kepatuhan
To your mate - love and faithfulness =cinta dan kesetiaan
To all men/women - love =kasih
To God - your life, your all! =seluruh hidupmu


Author Unknown

MENAKLUKKAN PIKIRAN PADA KRISTUS


Saat saya ingin menulis artikel tentang problema konflik gereja, saya menemukan ketidakmampuan untuk melukiskan bagi pembaca. Sebab sekalipun saya mengetahui kesimpulannya, namun untuk melukiskan dengan baik supaya yang membaca dapat mengerti isi dan makna dari tulisan tidak segampang seperti yang dipikirkan. Dalam pikiran ada terbentuk ide. Namun untuk menuangkan ide dalam bentuk tulisan sungguh-sungguh susah. Dalam pikiran terdapat benang-benang kusut yang semuanya perlu dijalin kembali menjadi sinkron sehingga bisa membentuk alur tema yang baik. Untuk menata benang-benang kusut itu saja sudah merupakan perkara yang sulit. Lalu, saya menyadari bahwa ada satu yang saya perlukan untuk menuangkan pikiran-pikiran saya dalam bentuk tulisan. Jawabannya adalah KREATIFITAS. Ya! Kreatifitas mutlak diperlukan untuk menenun benang-benang pikiran menjadi tulisan yang sinkron, enak dibaca dan dapat dimengerti.

Lalu saya mencoba merenungkan mau mulai dari mana tulisan saya. Huruf, kata atau kalimat apa yang harus saya goreskan di atas kertas putih ini. Lama merenung ternyata masih tidak menemukannya. Akhirnya saya mulai putus asa dan memikirkan bahwa saya ini orang yg tidak kreatif. Untuk menjalin benang-benang dalam pikiran saya saja tidak mampu. Bagaimana mau menuliskan tentang konflik? Bukankah konflik itu justru terjadi di luar sana yang tidak dapat saya raih? Untuk menyatukan beberapa pikiran yg di dalam diri sendiri saja sudah tidak mampu, bagaimana saya bisa berpikir bahwa saya mampu menuliskan tentang konflik yg lebih rumit? Saya ini terlalu naif!

Sambil berbicara pada diri sendiri saya tengelam dalam kesadaran bahwa saya tidak mampu dan tidak kreatif. Bra..kkk! Saat ini saya merasa seperti orang lumpuh. Semua organ-organ tubuh tidak mau diajak untuk bekerja! Celaka! Saya benar-benar tidak bisa menuliskan ide saya. Duduk terdiam dan sepi…

Lalu dalam keheningan alam pikiran, tiba-tiba saya mendapati satu cahaya yang redup dan kecil. Saya berpikir mungkin inilah jalan keluar dari masalah saya. Cahaya itu ada pada KREATIFITAS! Hmm..mm, saya merasa heran. Bukankah tadi saya sudah melewatinya? Lalu, saya coba menghampirinya dan mengenalinya sekali lagi. Wahhh… cahaya itu ‘berbicara’ pada saya, sehingga entah bagaimana muncul sebuah benang baru! Saya diajak memikirkan kata KREATIFITAS ini. Dasar dari kata ini adalah KREATIF. Kalau dimundurkan lagi, kata ini adalah kata adopsi dari bahasa Inggris yaitu; CREATIVE. Kata ini memiliki kata dasar yaitu: CREATE. Kata ini memiliki arti menciptakan, membuat, dan menjadikan. Cahaya itu bertanya pada saya, “Who is the CREATOR?” Brakk..kk! Seketika itu juga saya baru menyadari bahwa kata kreatifitas ini berhubungan dengan Tuhan yang tidak lain adalah The CREATOR (Sang Pencipta). Kamus Bahasa Inggris menterjemahkan The Creator sebagai ALLAH MAHA PENCIPTA.

Saya masih bingung dan tidak menemukan hubungannya dengan ide yang mau saya tuliskan. Dan saya masih dalam kegelapan, saya berdoa: “ Ah Tuhan, kiranya buatlah aku mengerti semua perkara ini. Sebab Engkaulah Sang Pencipta.” Setelah selesai berdoa saya masih belum mengerti bagaimana menuangkan ide saya dalam bentuk tulisan. Saya terus menanti dan menanti. Lalu suatu ketika saya mendengar suara yg berkata, “Taklukkan pikiranmu pada Kristus!” Wow! Rupanya percuma saya berdoa karena saya belum menyerahkan pikiran dan diri saya kepada Tuhan. Lalu saya berdoa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Terserah Tuhan mau saya menuliskan apa. Tuhanlah yang merangkaikan huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat buat saya. Ini revisi doa saya kepada Tuhan.

Dan tiba-tiba saja…., wah, di dalam kamus ini memberikan huruf kapital pada “T” dan “C”. Inilah satu wujud pengagungan dan penghormatan bagi ALLAH oleh manusia. Memang hanya DIA saja yang layak kita puji selamanya. Herannya lagi manusia dan mahluk lainnya disebut sebagai CREATURE (makhluk ciptaan). Jadi sebagai creature, kita mesti memuliakan The Creator. Dan itu hanya bisa terjadi jika dalam hubungan yang erat dan harmonis dengan Tuhan. Pada saat Allah menciptakan bumi dan segala isinya adalah dalam keadaan BAIK. Bahkan pada saat menciptakan manusia Allah katakan “Sungguh amat baik”.

Dalam bahasa Ibrani istilah "baik" disebut "Towb" yang mengandung banyak arti seperti: beautiful, better, best, cleanful, favour, fine, glad, graciously, joyful, kind, loving, pleasant, precious, sweet, dan sebagainya. Itulah kualitas hidup dan relasi yang Allah kehendaki dalam hubungan kita dengan Allah, sesama, dan diri sendiri.[1] Pikiran saya jadi terbuka sekarang. Thank’s God! :)

Saya bersyukur pada Tuhan karena mengerti bahwa benang-benang alam pikiran saya ini hanya bisa diluruskan jika saya mau menyerahkannya kepada Tuhan. Ya, kita sering berjalan dengan cara kita sendiri, hidup dengan gaya sendiri, bergerak dengan kecepatan sendiri, bertindak dengan alasan sendiri, marah dengan ego, dan lain-lain. Ini tandanya kita menolak Tuhan dan pimpinanNya yang membawa kita kepada sikap memberontak. Seperti Adam dan Hawa yang memberontak atas perintah Allah, demikianlah kita jika tidak menyerahkan diri bagi Tuhan. Adakah kita menyerahkan semua aspek hidup kita buat Tuhan kita? TUHAN, The Creator sanggup merubah hidup kita. Jika semua aspek hidup kita diserahkan kepada Tuhan, maka Ia akan membuat hubungan yang baik dan indah; antara kita dengan Sang Khalik, dengan diri sendiri dan dengan sesama kita. Serahkan rasa senang, sedih, marah, kecewa, cemburu, takut, iri hati, dendam, sakit hati dan semua emosi kepada Tuhan. Serahkanlah sikap dan pandangan hidup yang tidak benar, dosa-dosa terselubung, egoisme, kedegilan hati, percabulan, amarah, dan akar pahit kepada Tuhan. Dia akan memperbaharui hidup kita. Dengan cara inilah kita memuliakan Tuhan sebagai mahluk ciptaanNya, yaitu menyerahkan semua aspek hidup kita untuk dipimpin Tuhan.

Tuhan bukan hanya membereskan benang-benang kusut di kepala saja, tetapi malah Dia memberikan satu artikel yang menjadi dasar bagi saya untuk menulis artikel-artikel lainnya. “Menaklukkan Pikiran Pada Kristus”. Inilah kunci emas yang Tuhan berikan pada saya. Saya minta 1 Tuhan beri saya 2. Thank’s God…!!




[1] http://www.glorianet.org/tamanbacaan/bob/bobp0009.html

Saturday, May 05, 2007

Menjadi HambaMU



MENJADI HAMBAMU

Tuhan ku ada di sini
Di hadiratMu yang suci
Ku mohon pengampunanMu
Kuduskanlah daku, jadikan ku baru...

Tuhan kini aku mohon
T'rimalah persembahanku
Ku mau kerja di ladangMu
Seumur hidupku, ku s'rahkan padaMu

Reff:
T'rimalah ya, Tuhan persembahan ini
Tubuh jiwa rohku, ku serahkan kepadaMu
Sucikanlah daku, kuduskanlah daku
'Gar ku layak menjadi hambaMu



Masih segar lagu ini bersenandung dalam hatiku.
Dan masih terukir pula ingatan ku akan pelayanan dari Ev.Esther Kurniawan, seorang hamba Tuhan yang luar biasa bagi ku.

Lagu ini memberikan kesan yang cukup mendalam tentang pelayanannya selama di dunia.
Lagu ini juga menjadi motivasi, inspirasi, dorongan dan cambuk bagi saya yang akan menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan di pertengahan Juni 2007 ini.

Menyanyikan lagu ini dan mengenang pelayanannya membuat hatiku terenyuh sampai tak kuasa menahan air mata.
Ada semacam perasaan kagum, salut, damai dan rasa kehilangan bercampur aduk dengan ketaatan terhadap Tuhan.
Perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan semua bahasa.
Suatu penyerahan TOTALITAS dari seorang hamba Tuhan.


Tuhan....
Apakah aku bisa melakonkan seperti menyanyikan lagu ini...?
Aku ingin melayaniMu dengan segenap hati dan segenap jiwaku.
Maukah Engkau menguatkan aku yang penuh cacat cela ini?

Friday, April 20, 2007

Tangan Yang Menyembuhkan



Tangan merupakan anggota tubuh manusia yang sangat penting. Ia dapat melakukan banyak hal dalam hidup ini. Tangan senantiasa diartikan juga dengan perbuatan, makanya tidak heran ada orang yang menggabungkan kedua hal ini menjadi “perbuatan-tangan”. Bisa dibayangkan betapa sedihnya hati seseorang yang dilahirkan dengan tanpa dua buah tangan. Ia tidak bisa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang lain. Misalnya mengganti baju, mandi, makan-minum, menulis, memegang / mengangkat sesuatu, memeluk orang yang dicintai, bermain musik dan lain-lainnya tidak dapat dilakukan tanpa tangan. Betapa kasihan sekali orang-orang yang terlahir seperti itu. Selain itu mereka juga akan mengalami ejekan dari teman-teman dan orang sekeliling juga memandang rendah kepada mereka. Tekanan mental bagi orang cacat seperti ini sungguh berat. Tangan merupakan alat yang sungguh-sungguh berguna dan berharga bagi manusia.

Tuhan telah menciptakan tangan untuk dipergunakan demi kebaikkan manusia. Namun seberapa mengerti manusia tentang maksud pemberian yang berharga ini? Saat saya kecil saya sering salah mempergunakan tangan ini. Hari itu saya sedang kesal terhadap suatu hal yang menyebalkan. Setelah sarapan pagi, kami berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Kebetulan jarak rumah kami dengan sekolah tidak begitu jauh. Adik-adik saya juga belajar di sekolah yang sama, jadi kami selalu berangkat bersama-sama setiap hari. Di sepanjang perjalanan ke sekolah itu saya menolak menggandeng tangan adik saya yang masih kecil. Ia baru kelas 2 SD, sedangkan saya sudah SMP. Bukan hanya itu saja, saya malah mencubitnya sampai menangis karena ia lambat berjalan. Tetapi saya rasa saat itu bukan oleh karena dia lambat berjalan, melainkan kedongkolan hati saya yang membuat dia mendapat perlakuan yang tidak baik dari saya. Siswa lain yang berangkat dengan mempergunakan jalan yang sama memadang kami dan bagi adik saya hal itu cukup membuat dia merasa malu karena sepanjang jalan dia dimarahi. Kalau dipikirkan kembali, rasanya tidak seharusnya saya bersikap seperti itu. Sampai saat ini saya masih menyesal dan menyalahkan diri sendiri -- kenapa memperlakukan adik saya yang mungil ini dengan cara yang kasar! Jika keajaiban itu ada, ingin rasanya berbalik ke masa itu dan memperbaiki sikap saya dengan menggandeng tangannya ke sekolah… tapi hal itu sudah tidak bisa dilakukan. Penyesalan selalu datang terlambat…!! Masa indah yang seharusnya saya nikmati bersama adik hilang begitu saja. Tangan yang Tuhan berikan, saya pergunakan untuk menyakiti hati adik-adik….

Berapa banyak penyesalan yang kita alami jika kita melihat perbuatan tangan kita di masa lalu? Saya rasa Anda setuju dengan saya bahwa jika masa lalu bisa terulang kembali maka dengan segera kita akan memperbaiki kesalahan kita. Jika Anda memiliki perasaan yang seperti itu, maka itu tandanya Anda adalah orang masih memiliki nurani yang bersih. Namun cacat yang kita lakukan di masa lalu sudah tidak dapat diubah. Kesalahan kita itu akan terukir selamanya dalam sejarah hidup kita dan dalam sejarah orang yang kita sakiti. Inilah penyesalan seumur hidup..!

Allah menciptakan kedua tangan bagi kita bukan dipergunakan untuk menyakiti orang lain. Allah berikan kedua tangan bagi kita untuk merangkul teman, untuk memeluk orang lain, untuk menolong bagi yang membutuhkan, untuk memberikan rasa aman bagi yang kecewa, untuk menguatkan tangan yang lesu, untuk menuntun tangan yang tak berpengharapan, dan untuk memberikan kehangatan bagi sesama. Tetapi, berapa banyak diantara kita yang mengerti pemberian Allah yang begitu berharga ini…? Berapa banyak yang mempergunakan dengan tujuan seperti ini?

Kalau kita mau berkata jujur satu dengan yang lain, kita sering pergunakan kedua tangan kita untuk maksud dan kepentingan sendiri. Demi kepentingan sendiri rela menyakiti orang lain, seperti saya menyakiti adik. Demikiankah maksud Allah menciptakan kedua tangan kita? Apakah Allah yang sempurna, baik, agung dan mulia yang telah rela memberikan kedua telapak tangannya dipaku di salib demi kita yang berdosa adalah Allah yang menciptakan tangan-tangan yang seperti ini..?? Celakanya, tak jarang kita mempraktekkan tangan-tangan yang seperti itu di Rumah Tuhan dan dalam persekutuan dengan sesama.
Air mata saya menetes di dalam hati, prihatin dan menangis takala melihat kejadian demi kejadian yang dilakukan sesama kita..!

Allah menciptakan kita sesuai dengan rupa dan gambarNya.
Bagaimana dengan hatiNYA melihat perlakukan kita terhadap sesama...? Saya tidak tahu...

Semoga Tuhan Memberkati kita…. dengan tangan yg berlubang itu.

MERANCANG KURIKULUM SEKOLAH MINGGU YANG KOMPREHENSIF




Membahas pelayanan anak tidak dapat lepas dari pelayanan sekolah minggu. Ini adalah bagian penting dari gereja untuk menjangkau dan melayani anak. Apakah sekolah minggu saudara memiliki pengertian sebatas departemen pelayanan yang merupakan bagian dari organisasi ataukah suatu organisme yang hidup ?

Sekolah minggu merupakan peluang pelayanan yang besar di mata Tuhan, dimana masa-masa usia penting dan berharga ada di tangan guru-guru sekolah minggu. Peran sekolah minggu baik guru maupun kurikulum (apa yang diajarkan dan bagaimana cara mengajar) sangat menentukan pembentukan dalam diri anak-anak yang dilayaninya.

Lois E.LeBar mendefinisikan kurikulum sebagai aktivitas yang direncanakan dengan baik untuk membawa anak-anak selangkah lebih dewasa dalam Kristus. Aktivitas yang dirancang untuk menghubungkan kehidupan anak dengan Firman Tuhan dan menghadirkan Firman Tuhan sebagai Roti Hidup dalam kehidupan riil yang dialami oleh anak-anak akan menolong pertumbuhan mereka semakin menjadi seperti Kristus ; hal ini merupakan inti dari sebuah kurikulum.

Kurikulum sekolah minggu yang hidup tidak sekedar memberikan pengetahuan tentang Alkitab kepada anak-anak, namun membiarkan anak-anak menikmati Firman Tuhan sebagai Air Hidup dalam kehidupan mereka. Dengan kata lain anak-anak tidak hanya belajar dari tulisan yang tertera tapi belajar dari mengalaminya dalam kehidupan yang nyata. Oleh karena itu kurikulum sekolah minggu perlu dirancang secara lengkap dan tepat untuk dapat dipakai sebagai alat mengajar anak-anak agar bertumbuh optimal di dalam rencana Allah.


Perkembangan Anak Holistik (Holistic Child Development)

Anak bertumbuh dan berkembang tidak hanya secara fisik dan intelektual saja, tetapi juga secara emosi, moral dan spiritual. Dalam penelitian tentang kecerdasan disebutkan bahwa kemampuan intelektual bukan lagi merupakan satu-satunya tolok ukur dalam menentukan tingkat kecerdasan. Seseorang dikatakan cerdas ketika dia mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Itu berarti selain kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan moral (AQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan seseorang. Manusia tidak pernah statis, sejak terjadinya pembuahan , perkembangan/perubahan terus berlangsung. Tidak ada satu individupun yag sama, namun tahap perkembangan secara umum dapat diprediksi.

Elizabeth Hurlock mengatakan bahwa “kematangan” dan “belajar” memegang peranan penting dalam perkembangan. Kematangan adalah terbukanya sifat bawaan individu. Belajar adalah perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha pada pihak individu.Setiap individu tidak dapat belajar sampai dirinya siap dan sebaliknya kesempatan belajar harus diberikan bila individu itu telah siap. Ketidaktepatan pada satu sisi akan mengurangi pengembangan potensi maksimal dalam diri seseorang.


Pembentukan Karakter (Character Building)

Ketika Tuhan Yesus menyatakan agar kita bertumbuh semakin serupa dengan DIA, Yesus tidak berbicara mengenai tampilan fisik tapi sesuatu di dalam diri kita yang dapat disebut sebagai “karakter”. Kemajuan karakter akan semakin menampakkan “karakter Illahi” , dan hal ini sangatlah penting. Semakin dini kita menanamkan dan menumbuhkannya di dalam diri seorang anak, akan semakin kokoh, karena berarti kita sudah meletakkan dasar/fondasi yang kuat.


Misi dan Kepedulian Sosial (Mission and Social Concern)

Salah satu ciri kecerdasan seseorang dapat dilihat dari dampak social yang dihasilkan. Tidak ada batasan usia untuk seseorang menjadi missionary atau pekerja social yang menjadi berkat bagi masyarakat sekitarnya. Tak ada seorang anak yang terlalu muda untuk dibentuk dan dilatih untuk menjadi alat Tuhan bagi pekerjaan-Nya.

Setidaknya ada 3 hal yang perlu ditumbuhkan dalam diri seorang anak untuk memiliki hati misi dan kepedulian kepada orang lain, yaitu :

Passion - Motivation - Compassion

Pendidikan yang hanya menekankan pada intelektual semata telah menghasilkan pemimpin-pemimpin yang gagal membawa Bangsa Indonesia kearah yang lebih baik. Inilah saatnya bagi sekolah minggu untuk berperan lebih lagi dalam pelayanan holistic bagi anak, agar nilai-nilai Injil, karakter dan jiwa misi dapat melekat kuat dalam diri sang anak.

Kurikulum Sekolah Minggu yang Komprehensif akan :
- Membawa anak mengenal Kristus secara pribadi
- Mendorong pertumbuhan iman
- Mengembangkan semua aspek dan potensi dalam diri anak
- Menanamkan dan menumbuhkan karakter Illahi
- Menghasilkan anak-anak yang memiliki hati misi dan peduli pada orang lain


KRITERIA UNTUK MENGEVALUASI KURIKULUM SEKOLAH MINGGU

  • Apakah materi tersebut menggunakan Firman Tuhan sebagai sumber utama dari pengajaran ?
  • Apakah materi tersebut mengajarkan kesetiaan dan kemahakuasaan Tuhan melalui keajaiban-keajaiban yang dibuatnya ?
  • Apakah Firman Tuhan digunakan dalam setiap pemecahan masalah sebagai yang terutama ?
  • Apakah materi tersebut mengajarkan nilai-nilai yang terdapat dalam Alkitab ?
  • Apakah materi tersebut mendorong anak-anak untuk menerima Krisrus sebagai Juru Selamat pribadi dan tumbuh dalam imannya ?
  • Apakah ada tujuan yang jelas ?
  • Apakah materi yg digunakan sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan anak-anak yang diajar ?
  • Apakah melalui materi yg digunakan anak-anak akan terpacu unuk mengingat hal-hal penting dan memiliki pengalaman yg sama dengan yang diajarkan ?
  • Apakah materi yang digunakan memberi berbagai kemungkinan diadakannya stimulasi dalam pengajaran ?
  • Apakah ada alat-alat peraga pembantu dalam pengajaran ?
  • Apakah semua aspek dalam diri seorang anak diasah dan digunakan dengan menggunakan materi kurikulum tsb ?
  • Apakah guru baru akan mudah mempergunakan materi tsb ?
  • Apakah “buku Petunjuk Bagi Guru” benar-benar membantu pengajar secara simple dan efektif ?
  • Apakah dengan menggunakan materi tsb, para pengajar semakain bertumbuh dalam cara mengajar ?

Adapted from Ronald C. Doll list criteria for evaluating curriculum materials in Children’s ministry by Lawrence O.Richards

Carol of Bells




Wajah Vocal Group ini adalah yang paling lengkap karena menampilkan semua personilnya. Alasan ini yang membuat saya memilih foto ini dari sekian foto yang ada. Tampak dari kiri atas ke kanan bawah TBS, WCM, WXM, AH, CF, LN, LN, LL, WYM, dan KN. (I will miss them)

VG ini kami bentuk di pertengahan tahun 2006 dan telah beberapa kali mempersembahkan lagu, antara lain:
- Shen Ah (KKR Pdt. Kilat Buana)
- Shen Ti Tau Lu
- Carol of Bells (Christmas Day)
- Yue Jian De Zan Mei
- Ku Naikkan Syukur
- Shine Jesus Shine (Gereja KINGMI, 27/05/07)

Percaya ndak? Sampai hari ini VG kami masih belum ada namanya. :-) Hal ini karena kami bingung memberikan sebuah nama kepadanya. Pernah ada yang mengusulkan sebuah nama yang cukup bagus, namun kami menolaknya karena terasa "jauh panggang dari api". Dengan kemampuan kami yang hanya biasa-biasa saja, kami merasa tidak layak menyandang nama yang begitu megah dan mentereng itu.

Orang menyebut kami sebagai VG Kelompok Kecil. Sekalipun tidak punya nama namun hal ini juga mengandung makna tersirat. Saya sendiri merasa dalam pelayanan hal yang terpenting adalah rendah hati, tidak perlu menyandang nama yg mentereng. Biarlah hanya nama Tuhan yang dimuliakan bukan nama VG nya. DIA SEMAKIN HARUS BERTAMBAH KU SEMAKIN HARUS BERKURANG.

Sekalipun demikian bukan berarti bahwa semua kami memiliki pengertian yang sama tentang pelayanan. Namun hal inilah yang menjadi tujuan/sasaran dari pelayanan kami. Dan biarlah DIA yang menyempurnakan setiap anak-anakNya.

VG ini akan saya tinggalkan beberapa saat lagi..., sampai hari ini jalan di depan kelihatan suram karena kami tidak ada pelatih lagi. Apakah VG ini akan bertahan di tengah-tengah keengganan melayani dari calon pelatih? Tampaknya jalan penuh bebatuan, bakal banyak persoalan yang bisa membubarkan VG ini. Ada batu kerikil dan ada batu besar yang sedang mengelinding ke arah kami. Namun apapun yang terjadi kiranya nama Tuhan yang dimuliakan dan diagungkan. Biar bagaimanapun, Allah adalah Allah yang berotoritas yg menguasai sejarah.

Monday, April 16, 2007

Shout To The Lord - Darlene Zschech

Lagu ini diajarkan oleh Mery Laimin dalam persekutuan Exodus.
This is a nice song, i really like it.

We Are The Reason - Avalon

Ini satu lagi lagu kenanganku di gereja KINGMI. Saya mempelajarinya dalam koor yg dipimpin oleh Unsula Oscar. Benar, DIA memberikan hidupnya untuk saya. Oleh sebab itu tidak terlalu besar jika saya memberikan kembali hidup yg telah ditebusNya. All this only by His grace.

Friends - Michael W Smith

Lagu legendarisku:

Saturday, March 31, 2007

Tuhan beri bonus hadiah

Akhirnya......

Saya dan isteri memutuskan untuk menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan dengan mendaftarkan diri ke Sekolah Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang.

Setelah kami mengambil keputusan ini ternyata Tuhan itu sangat baik buat kami. Tuhan mengabulkan kerinduan kami yang belum pernah tercapai dahulu. Sebenarnya dalam isteri saya juga merasa yakin bahwa Tuhan yang akan menyediakan bagi kami, dan dia hanya menyimpannya dalam hati. Sampai pada suatu saat hari ketika dia melakukan test urin dengan alat test kehamilan... dan ternyata isteri saya positif. :-) Praise GOD..!!

Dengan 'hadiah' dari Tuhan ini kami bertekad tetap akan menuju ke 'kota Tuhan' untuk mengikuti ujian masuk calon mahasiswa. Yah, saat itu kami sepakat untuk tidak mencari dokter kandungan manapun demi menghindari terganggunya penyerahan-diri kami ini. Karena bagaimanapun jika mendapati kabar yang buruk tentang kehamilan kali ini, hal ini pasti akan banyak menyita tenaga dan pikirian kami sehingga jalan yang Tuhan sediakan bagi kami pun bisa terabaikan. Bagaimana tidak? Jika kehamilan kali ini gagal, itu arinya isteri saya harus dikuret lagi dan ini yang ke tiga kali. Jika hal ini bener terjadi saya yakin isteri saya akan menjadi trauma. Bukan hanya trauma saja tetapi efek-efek lainnya pasti akan menyertai peristiwa tersebut.


Oleh sebab itu tidak ada satu pun dari keluarga kami yang mengetahuinya, kami bawa masalah ini dalam doa kepada Dia yang memanggil kami. Akhirnya tibalah kami berangkat ke Medan dengan menempuh perjalanan 3 jam (22 Feb 2007). Setelah menginap beberapa hari kami melanjutkan perjalanan ke Jkt dengan tiket AirAsia yang kami pesan via internet (bayarnya dengan meminjam CC dari Koko Tomo). Di Jkt kami menumpang di rumah ko Tomo selama 3 hari karena isteri saya juga kangen dengan keponakkannya Faustin dan Jesslyn, apalagi suasana Imlek masih kental terasa saat itu. Meskipun isteri saya sudah mulai mual tetapi kami masih bisa menyimpan kehamilan ini dari keluarga ko Tomo. Kami sengaja memindahkan Anmum ke Tupperware supaya tidak ada yang mencurigai susu apa yang diminum oleh isteri saya.

Setelah diantar ke bandara Soekarno-Hatta kemudian kami berangkat ke Malang dengan Sriwijaya Air (tiket disiapkan ko Tomo). Di Malang kami menumpang di rumah keluarga hamba Tuhan. (bersambung)

Thursday, September 07, 2006

“Cu Ah…!” (Suatu Instropeksi Diri)

Cu Ah!, adalah kata yang sering diucapkan dalam ibadah-ibadah di gereja Hua Ren. Setiap kali kata ini diucapkan, sebanyak itu pula kita melukai hati Bapa yang di sorga. Semakin banyak kata ini disebutkan dan didengungkan sebanyak itu pula hati Allah tergores dan terluka. Ironisnya ini terjadi justru dalam ibadah-ibadah gereja oleh orang-orang yang mengaku percaya kepada Tuhan…… Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Takkala kita menyebut nama Tuhan, apakah kita sungguh menyembah Dia sebagai Tuhan? Jika sikap menyembah Allah tidak ada pada orang-orang percaya yang menyebut nama Tuhan, apakah makna dari kata ini? Apakah kita bisa menemukan makna kata ini dari orang-orang yang belum mengenal Kristus? Orang percaya yang menyebut nama Tuhan adalah wajib memiliki hati dan sikap menyembah pada Allah. Yang tidak memiliki hati menyembah tidak layak menyebut nama Tuhan karena Tuhan memberikan namaNya kepada umatNya bukan hanya supaya dikenal melainkan supaya dengan sikap hormat dan gentar kita menyembahNya.

Orang percaya yang menyebut “Cu Ah!” tetapi tanpa dibarengi sikap menyembah kepada Allah akan dihukum Allah karena mereka melukai hati Tuhan dan menipu banyak orang dan diri sendiri. Pada akhir zaman, Tuhan Yesus mengatakan bahwa akan ada banyak orang yang akan menyebut nama Tuhan, tetapi mereka justru adalah orang-orang jahat. Dan Tuhan Yesus akan menjawab mereka, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Dari sini kita melihat pentingnya sikap menyembah itu ada pada setiap orang percaya. Lalu bagaimanakah sikap menyembah itu?


1. Meninggalkan dosa.

Orang yang menyembah Allah adalah orang yang membenci dosa. Dengan segala cara ia akan berusaha meninggalkan dosa-dosanya. Ia merasa malu jika masih ada dosa dalam dirinya saat menyembah Allah, seperti doa seorang pemungut cukai. Ia merasa tidak layak bertemu dengan Allah dengan keadaan dirinya yang penuh dosa. Memang tidak ada manusia yang bebas dari dosa, tetapi yang dimaksudkan di sini adalah sikap membenci dan menjauhi dosa senantiasa ada pada seorang penyembah yang benar. Seorang penyembah yang benar tidak akan menyembunyikan/memelihara dosanya, tetapi memelihara kesucian/kekudusan hidup.


2. Sikap menyembah dinyatakan dalam hidup setiap hari.

Kita sering keliru dan merasa nyaman jika hanya melakukan penyembahan/ibadah seminggu sekali dalam Kebaktian Minggu. Sikap hidup dari sebagian orang percaya dari Senin sampai Sabtu berbeda dengan hari Minggu. Jika hari Minggu mereka akan menampilkan diri sebagai orang yang murah senyum, seolah-olah penuh kasih, pemaaf, pemerhati, dan segala sikap ideal dalam Alkitab. Singkat kata, mereka akan mengenakan jubah putih bersih seperti jubah malaikat pada hari Minggu. Tetapi jika sudah selesai hari Minggu, takkala terjun ke bisnis sehari-hari mereka akan berubah seperti dunia ini; hampir tidak bisa menemukan bedanya orang Kristen dengan orang non Kristen. Tidak ada kasih dan kebaikan selain di hari Minggu. Kita menjadi seperti lalang di luar hari Minggu! Sikap yang demikian bukanlah sikap yang menyembah Allah. Menyembah Allah bukan hanya dilakukan di gereja melainkan dalam segala aspek hidup kita. Penyembah Allah adalah orang-orang yang membiarkan Tuhan menyatakan keberadaanNya dalam dirinya. Setiap hari adalah hari ibadah kepada Allah. Seluruh hidup kita adalah penyembahan kepada Allah, baik saat kebaktian, saat bisnis/bekerja, dalam keluarga, dalam persaudaraan dengan sesama dan di segala bidang lainnya. Dengan demikian kita akan menjadi saksi dalam hidup dan orang lain mengenal kita sebagai penyembah Allah yang benar dari kehidupan setiap hari.


3. Mencintai kebenaran/keadilan.

Semua orang mencintai kebaikan, tetapi siapakah yang mencintai kebenaran? Kita sering mendengar kalimat ini dalam rapat, “Jika semuanya baik bagi kalian ya kita jalankan saja!”. Namun, takkala kebaikan melanggar rambu-rambu kebenaran, yang mana yang akan kita jalankan? Takkala kebaikan memberikan keuntungan dan kebenaran membawa ketidakberuntungan, yang mana yang kita utamakan diantara keduanya? Mana yang lebih bernilai tinggi; kebaikan atau kebenaran? Kebaikan bisa berubah-ubah tetapi kebenaran adalah kekal dan absolut.

Orang yang menyebut nama Tuhan tidak akan tenang/nyaman bila melihat praktek kejahatan dan ketidakadilan terjadi di depan mata. Orang yang mencintai kebenaran akan merasa terluka takkala menyaksikan kejahatan merajalela. Jika benar kita katakan BENAR dan jika salah kita katakan SALAH. Sikap ini menjadi prinsip hidup seorang penyembah yang benar. Dan yang selalu akan menjadi prioritas utamanya adalah kebenaran. Saat Allah menghakimi manusia, yang dipergunakan sebagai alat pengukur adalah kebenaran dan keadilan bukan kebaikan. Tiket masuk sorga bukan “apakah engkau sudah baik”, melainkan “apakah engkau sudah dibenarkan…”. Inilah yang menyatakan kwalitas kebenaran melampaui kebaikan. Kita sering gagal dalam memilah kebaikan dan kebenaran. Sering kali kita memilih hal yang baik daripada yang benar. Namun kehadiran umat Tuhan adalah menyatakan kebenaran Tuhan. Inilah tugas gereja yang utama; menyatakan kebenaran. Di dalam kebenaran pasti ada kebaikan Allah, tetapi dalam kebaikan belum tentu ada kebenaran. Penyembah yang benar seharusnya mencintai kebenaran dan keadilan diatas kebaikan.


4. Takut akan Tuhan.

Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaknya adalah orang yang memiliki hati yang takut akan Tuhan. Dalam segala tindakan kita, kita takut jika melukai hati Tuhan, takut tidak memuliakan Tuhan, takut menjadi batu sandungan, dan lain-lain. Sikap takut akan Tuhan ini lahir dari kesadaran bahwa Allah adalah Hakim dan Tuhan Maha Suci. Ia yang akan menghukum dosa-dosa kita dengan penuh keadilan jika kita berlaku tidak benar, tidak jujur, setuju dengan kejahatan, berlaku pilih kasih, mementingkan diri sendiri, serakah, sombong, tipu muslihat, iri, materialistik, penyembahan berhala, zinah dan berbagai macam dosa-dosa yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Segala kejahatan manusia terekam rapi dalam video yang akan diputar kembali pada saat penghakiman. Ia akan menghakimi kita sedang benar, adil dan jujur. Orang yang sudah lahir baru dan percaya Tuhan pasti memiliki hati yang takut dan gentar akan Tuhan.

Pandangan-pandangan dan nilai duniawi saat ini sedang merasuki gereja tanpa ada perlawanan berarti. Sebabnya tidak ada yang mencintai kebenaran/keadilan dan tidak ada hati yang takut akan Tuhan. Kita semua lebih mementingkan urusan dan bisnis sendiri ketimbang memikirkan rumah Tuhan. Kasus-kasus yang memalukan yang terjadi di gereja didiamkan dengan alasan tidak etis (tabu/malu), karena hubungan persaudaraan/teman, dan lain-lain. Sikap seperti ini apakah mencerminkan kecintaan kita kepada kebenaran atau keberpihakan kita kepada dosa/kejahatan? Kita lebih takut kepada manusia dari pada takut kepada Tuhan. Ini sikap yang aneh, karena orang-orang yang bersikap mendiamkan, mereka jugalah yang menyetujuinya dengan sikap diam mereka. Sikap diam ini mencerminkan takut kepada manusia daripada takut akan Allah. Apakah yang Tuhan Yesus lakukan saat bertemu dengan ahli Taurat dan ahli Farisi? Tuhan Yesus menegor mereka dengan sangat keras dengan sebutan: “Hai kamu keturunan ular beludak…!” Saat orang memberitahu bahwa ibuNya sedang mencariNya, Tuhan Yesus menunjuk ke arah murid-muridNya dan mengatakan, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." Apakah yang dilakukan Tuhan Yesus saat rumah Tuhan disalahfungsikan? Tuhan mengobrak-abrik seluruh pedagang yang ada di sana dan menyebut mereka mendirikan sarang penyamun di rumah Tuhan.

Sikap-sikap ini hanya contoh yang kadang terjadi di dalam gereja. Tetapi jika kita mau analisa maka sikap-sikap ini seperti puncak gunung es di tengah laut. Sikap-sikap ini mencerminkan betapa bobroknya gereja tersebut selama ini. Jika hal ini bisa terjadi di gereja, bagaimana pula saat mereka di dalam masyarakat dalam kehidupan sehari-hari? Inilah sikap orang-orang yang berseru, “Cu Ah!” dan di sisi lain terus menerus melakukan kejahatan bahkan menyetujui orang lain yang melakukannya. Mereka mungkin saja setuju jika ada kesalahpahaman dalam gereja, maka hal itu diserahkan kepada aparat hukum. Tetapi kalau kesalahan itu ada di pihak mereka, maka hal itu didiamkan dan menganggap tidak perlu diungkit-ungkit masa lalu, namun mereka tidak mau belajar dari masa lalu dan bertobat. Dengan kondisi yang seperti ini bagaimana gereja menegakkan kesaksiannya di tengah dunia yang gelap? Kalau gereja saja gelap apakah ia mampu memberikan secercah cahaya bagi dunia yang terhilang ini? Dalam hal ini gereja pasti gagal menggemban Amanat Agung Tuhan Yesus.

Orang-orang yang melakukan kejahatan ini tidak merasa takut akan Tuhan. Orang-orang inilah yang justru sering menyebut nama Tuhan dalam memimpin ibadah-ibadah, doa dan puji-pujian. Betapa sakitnya hati Tuhan setiap kali kata “Cu Ah..!” diucapkan oleh orang yang melakukan kejahatan dengan jubah pelayanan? Tuhan akan menghukum orang-orang yang menyebut nama Tuhan dengan sembarangan! Tuhan akan menghukum karena orang-orang yang di dalam gereja yang sudah meninggalkan Dia. Sejarah bangsa Israel telah membuktikan bagaimana Allah membiarkan Bait Allah dan Jerusalem berkali-kali diserbu dan dijarah oleh orang-orang kafir. Jika tidak bertobat, kita akan melihat penghukuman Allah atas diri kita, atas keluarga kita, atas gereja kita dan atas generasi kita. Atau mungkin juga penghukuman Allah saat ini sedang berlangsung dengan pelan dan pasti…?? Marilah kita kembali kepada Tuhan, berpaling dari kejahatan kita dan meminta pengampunanNya! Amen!

Apabila orang-orang fasik bertunas seperti tumbuh-tumbuhan, dan orang-orang yang melakukan kejahatan berkembang, ialah supaya mereka dipunahkan untuk selama-lamanya. (Maz 92:8)